Banyak Merek Motor Listrik di Indonesia, Mengapa Pengadaan MBG Pilih Emmo Rp 50 Jutaan?

JAKARTA – Pengadaan ribuan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan publik. Kendaraan yang diduga disiapkan untuk Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu disebut memakai merek Emmo, dengan nilai pembelian yang jika ditotal mencapai triliunan rupiah.
Motor listrik yang dimaksud ialah Emmo JVX GT bergaya trail dan Emmo JVH Max untuk model skuter. Berdasarkan situs resmi, Emmo JVX GT dijual Rp 56,8 juta, sedangkan Emmo JVH Max dibanderol Rp 48,8 juta.
Data pada Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan Inaproc milik LKPP menunjukkan ada dua paket besar pengadaan kendaraan roda dua untuk Badan Gizi Nasional (BGN). Masing-masing bernilai Rp 1,22 triliun dengan metode e-purchasing dan sumber dana APBN. Dua paket itu sama-sama memiliki volume 24.400 unit, sehingga totalnya mencapai 48.800 unit.
Dalam katalog pengadaan, penjual tercatat PT Yasa Artha Trimanunggal. Harga satuan motor disebut Rp 49,95 juta termasuk PPN 12 persen. Jika dikalikan 24.400 unit, nilai satu paket pengadaan mencapai sekitar Rp 1,218 triliun.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan pengadaan motor listrik tersebut merupakan bagian dari perencanaan anggaran 2025 untuk mendukung operasional program MBG, terutama bagi Kepala SPPG.
“Pengadaan motor ini memang masuk dalam anggaran 2025. Fungsinya untuk mendukung operasional Kepala SPPG,” kata Dadan, Selasa (7/4/2026).
Meski begitu, pemilihan motor listrik dengan harga sekitar Rp 50 jutaan memunculkan pertanyaan. Sebab, di Indonesia sudah tersedia sejumlah motor listrik dengan harga yang lebih terjangkau.
Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, menyoroti mekanisme pengadaannya. Menurut dia, bila pengadaan mengarah pada penunjukan satu vendor, hal itu patut disayangkan karena Indonesia memiliki beberapa merek kendaraan listrik dengan kemampuan yang relatif setara.
Hendro menyebut sejumlah produk dalam negeri seperti GESITS, PINDAD, dan PT LEN juga terlibat dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Ia menilai pelibatan lebih dari satu penyedia dapat memperkuat transparansi, daya saing, dan pemerataan pertumbuhan industri.
Menurut Hendro, pemilihan motor trail dan skuter sebenarnya sudah tepat untuk kebutuhan SPPG. Motor trail cocok untuk wilayah pedesaan, sedangkan skuter listrik lebih sesuai untuk area perkotaan.
Ia juga menilai harga tersebut masih sebanding dengan produk setara di pasar, seperti United RX6000, Alessa Dimentro DT-Pro, Surron Ultra Bee, dan Tromox UKKO. Namun, untuk produk dari PT LEN dan PT PINDAD, harga belum terbuka untuk umum.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pihaknya sempat menolak pengadaan komputer dan motor untuk MBG pada tahun lalu. Ia mengatakan akan memeriksa kembali informasi tersebut.
Purbaya menilai anggaran MBG seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan makanan. Menurut dia, mitra program sebenarnya bisa menanggung sebagian pembelian fasilitas operasional secara mandiri melalui keuntungan yang diperoleh.
