Fenomena Motor Listrik Berlabel Produk Dalam Negeri, tetapi Komponen Intinya Diduga dari China

18 Apr 2026 • 22:32 iMedia

JAKARTA – Dugaan bahwa motor listrik Emmo JVX GT untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan produk asal China yang kemudian diberi merek lokal memunculkan kembali perdebatan soal industri kendaraan listrik di Indonesia. Praktik rebranding atau white label disebut bukan hal baru di tanah air, terutama pada segmen motor listrik.

Warganet menyoroti kemiripan Emmo JVX GT dengan motor listrik China, Kollter ES1-X PRO, yang dijual di Alibaba dengan harga sekitar Rp 10 jutaan untuk pembelian satu unit. Harga itu bahkan disebut bisa turun menjadi sekitar Rp 8 jutaan jika membeli dua unit.

Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, mengatakan praktik white label memang lazim terjadi dalam industri kendaraan listrik. Menurut dia, sejumlah produk yang beredar di Indonesia memang berasal dari pabrikan China, lalu dipasarkan kembali dengan merek berbeda.

"Praktik umum," kata Hendro kepada detikOto. Ia menambahkan, lebih mudah menemukan produk yang benar-benar dirancang dan dibangun sepenuhnya di Indonesia dibandingkan motor listrik yang sekadar dirakit atau diberi merek lokal.

Hendro menjelaskan, banyak motor listrik di Indonesia yang pada dasarnya merupakan hasil rebranding dari produk white label asal China. Meski begitu, ada juga produsen yang mulai meningkatkan porsi produksi lokal, seperti pada rangka, bodi, dan velg.

Di sisi lain, klaim tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) Emmo yang disebut mencapai 48,5 persen juga menjadi sorotan. Menurut Hendro, TKDN tidak bisa disamakan dengan ukuran seberapa besar sebuah produk dikuasai secara teknologi oleh Indonesia. TKDN, kata dia, lebih menggambarkan seberapa besar nilai rupiah yang berputar di dalam negeri selama proses produksi.

Ia merujuk pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 28 Tahun 2023 yang mengatur kendaraan listrik. Dalam aturan itu, perhitungan TKDN motor listrik roda dua mencakup empat aspek, yakni manufaktur komponen utama dengan bobot 50 persen, perakitan 30 persen, komponen pendukung 10 persen, dan riset serta pengembangan 10 persen.

Menurut Hendro, bila perusahaan membangun fasilitas perakitan di Indonesia, maka nilai TKDN dari sisi perakitan bisa langsung cukup besar. Penggunaan tenaga kerja lokal, bangunan pabrik di Indonesia, hingga utilitas seperti listrik dan air disebut ikut masuk dalam komponen penilaian.

Selain itu, penggunaan komponen pendukung seperti ban dari pemasok lokal juga dapat menambah nilai TKDN. Untuk baterai, Hendro menilai sel litium memang masih banyak diimpor dari China. Namun, jika sel tersebut dibeli melalui importir resmi di Indonesia lalu dirakit menjadi baterai pack di dalam negeri, maka ada nilai tambah lokal yang ikut dihitung.

Soal riset dan pengembangan, Hendro menyebut bobot 10 persen dalam aturan TKDN juga memungkinkan perusahaan mengklaim sebagian nilai melalui proses sertifikasi, pengujian, dan dokumentasi produk di Indonesia.

Dengan struktur seperti itu, Hendro menilai angka TKDN 48,5 persen masih masuk akal, bahkan berpotensi lebih tinggi jika pos-pos yang dihitung memang terpenuhi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perhitungan TKDN belum tentu mencerminkan penguasaan teknologi inti.

Hendro menyoroti kemungkinan bahwa komponen utama seperti sel baterai, motor BLDC, controller, rangka, dan sistem elektronik masih diimpor dari China melalui importir resmi di Indonesia. Dalam kondisi itu, produk memang bisa dikategorikan sebagai produk dalam negeri secara regulasi, tetapi teknologi strategisnya belum dikuasai produsen nasional.

Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan industrialisasi yang masih dangkal. Selama TKDN hanya menilai perputaran nilai uang dan belum mengukur kedalaman penguasaan teknologi, Indonesia berisiko terus menghasilkan produk yang secara administratif tampak lokal, tetapi masih bergantung pada komponen inti dari luar negeri.

"Selama TKDN hanya mengukur perputaran nilai uang dan bukan kedalaman penguasaan teknologi, kita akan terus menghasilkan produk yang Indonesia di atas kertas, tapi China di dalam mesinnya," ujar Hendro.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya