Fenomena Motor Listrik Berlabel Produk Dalam Negeri, tetapi Komponen Intinya Masih dari China

JAKARTA – Dugaan bahwa motor listrik Emmo JVX GT untuk program makan bergizi gratis (MBG) merupakan hasil rebranding dari produk China kembali memunculkan perdebatan soal batas antara produk dalam negeri dan komponen impor.
Warganet menyoroti kemiripan Emmo JVX GT dengan Kollter ES1-X PRO yang dijual di marketplace Alibaba dengan harga sekitar Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per unit, tergantung jumlah pembelian. Namun, praktik white label atau rebranding motor listrik dari pabrikan China disebut bukan hal baru di Indonesia.
Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, mengatakan praktik tersebut sudah lazim di industri kendaraan listrik. Menurut dia, banyak motor listrik yang beredar di Indonesia memang berasal dari produk white label asal China yang kemudian diberi merek lokal.
"Praktik umum," kata Hendro.
Ia menjelaskan, sebagian produk memang kemudian mengalami penyesuaian dengan kandungan lokal, seperti rangka, bodi, velg, hingga perakitan di dalam negeri. Karena itu, klaim Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kerap dinilai tidak selalu mencerminkan seberapa besar penguasaan teknologi lokal pada sebuah produk.
Hendro menilai, TKDN lebih menggambarkan besaran nilai ekonomi yang berputar di dalam negeri selama proses produksi, bukan kedalaman penguasaan teknologi. Ia juga merujuk pada Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 28 Tahun 2023 yang mengatur perhitungan TKDN kendaraan listrik roda dua melalui empat aspek, yakni manufaktur komponen utama, perakitan, komponen pendukung, serta riset dan pengembangan.
Menurut dia, bila sebuah perusahaan membangun fasilitas perakitan di Indonesia, memakai tenaga kerja lokal, serta menggunakan sejumlah komponen pendukung dari pemasok dalam negeri, maka nilai TKDN dapat terdongkrak cukup signifikan. Termasuk jika proses perakitan baterai dilakukan di Indonesia, meski sel baterainya tetap berasal dari impor.
Hendro juga menyoroti bahwa beberapa komponen inti seperti sel baterai, motor BLDC, controller, hingga sistem elektronik masih berpotensi besar berasal dari China melalui importir resmi. Kondisi itu, kata dia, membuat produk tersebut sah secara regulasi sebagai produk dalam negeri, namun belum tentu mencerminkan kemandirian teknologi yang sesungguhnya.
Ia menyebut situasi ini sebagai shallow industrialization atau industrialisasi dangkal. Dalam pandangannya, Indonesia masih belum memiliki definisi yang cukup tegas mengenai industri dalam negeri yang benar-benar mandiri secara teknologi.
"Selama TKDN hanya mengukur perputaran nilai uang dan bukan kedalaman penguasaan teknologi, kita akan terus menghasilkan produk yang Indonesia di atas kertas, tapi China di dalam mesinnya," ujar Hendro.
