Indef: Insentif Mobil Elektrifikasi Perlu Diaktifkan Lagi untuk Redam Lonjakan Harga Minyak

13 Apr 2026 • 17:28 iMedia

NGEBUT.ID – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai pemerintah perlu segera mengaktifkan kembali insentif kendaraan listrik sebagai langkah untuk meredam risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia.

Rizal mengatakan, tanpa stimulus lanjutan, Indonesia berpotensi kehilangan momentum dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik, terutama di kalangan kelas menengah.

“Risiko perlambatan ini cukup nyata, khususnya setelah insentif fiskal berakhir pada 2025 yang menyebabkan harga kendaraan listrik menjadi lebih mahal dan daya beli masyarakat menyempit,” ujarnya di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu (5/4).

Menurut Rizal, keberlanjutan insentif kendaraan listrik akan sangat menentukan keberhasilan transisi energi di sektor transportasi, sekaligus menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global.

Data menunjukkan sepanjang Januari hingga November 2025, penjualan kendaraan listrik sempat mencapai sekitar 82 ribu unit atau setara 11-12 persen dari total pasar otomotif nasional. Capaian itu didorong oleh berbagai insentif pemerintah.

Namun, di sisi lain, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat harga minyak dunia tetap tinggi, bahkan bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN.

Rizal menjelaskan, alokasi subsidi energi pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp210 triliun. Anggaran tersebut sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak, di mana setiap kenaikan 1 dolar AS per barel dapat menambah beban fiskal sebesar Rp6-7 triliun.

“Artinya, jika harga minyak naik 10 dolar AS per barel, tambahan beban subsidi bisa mencapai Rp60-70 triliun,” katanya.

Karena itu, ia menilai insentif kendaraan listrik tetap dibutuhkan, bukan hanya untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga sebagai strategi jangka menengah untuk mengurangi tekanan fiskal dan ketergantungan pada impor BBM.

“Dalam simulasi transisi energi, penggantian 1 juta kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik berpotensi menghemat sekitar 13 juta barel minyak per tahun. Ini merupakan penghematan yang signifikan dan berdampak langsung terhadap keseimbangan energi nasional,” ujar Rizal.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya