Mobil Listrik Murah Mulai Gerus Pasar MPV Konvensional di Indonesia

24 Apr 2026 • 01:08 iMedia

NGEBUT.ID – Harga mobil listrik yang makin terjangkau mulai mengubah peta persaingan pasar otomotif di Indonesia. Segmen kendaraan listrik kini dinilai semakin menekan pasar mobil konvensional, terutama SUV dan MPV berbahan bakar bensin.

CEO Degree Synergy International, Andrea Suhendra, menyebut jumlah model mobil listrik di Indonesia melonjak tajam hingga Maret 2026. Berdasarkan data terbaru, jumlah model battery electric vehicle atau BEV di tanah air telah mencapai 74 unit, naik jauh dibandingkan 2021 yang baru tersedia 11 model.

Tak hanya BEV, segmen plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV juga mengalami pertumbuhan pesat. Jika pada Maret 2025 jumlahnya baru 42 unit, maka pada Maret 2026 angkanya melonjak menjadi 1.521 unit.

Menurut Andrea, salah satu pemicu utama meningkatnya minat masyarakat adalah harga mobil listrik yang semakin kompetitif. Selisih harga dengan mobil bermesin konvensional atau internal combustion engine (ICE) kini makin sempit. Jika pada 2022 harga mobil listrik rata-rata masih berada di atas Rp500 juta, saat ini sudah banyak pilihan di kisaran Rp300 juta bahkan di bawahnya.

Kondisi tersebut disebut mulai menggerus pangsa pasar SUV dan MPV berbahan bakar bensin. Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak, terutama solar, turut mendorong konsumen melirik mobil listrik karena biaya kepemilikannya dinilai lebih efisien.

Meski ada perubahan skema pajak daerah, Andrea memperkirakan minat masyarakat terhadap mobil listrik tidak akan mudah turun. Menurutnya, efisiensi energi tetap menjadi daya tarik utama, terutama bagi konsumen di kota-kota besar.

“Sebaiknya pemda memberlakukan tarif pajak progresif. Contohnya, BEV di atas Rp500 juta dikenakan tarif lebih tinggi, sedangkan di bawah itu sebaiknya rendah,” kata Andrea Suhendra di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Terkait transisi energi, Andrea juga mendukung pemberian insentif tambahan bagi kendaraan PHEV. Ia menilai teknologi tersebut bisa menjadi jembatan bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya beralih ke mobil listrik murni, terutama karena faktor infrastruktur pengisian daya, jarak tempuh, dan kebiasaan berkendara.

“PHEV layak diberi stimulus tambahan, tetapi bersyarat, karena bisa menjadi jembatan transisi untuk konsumen yang belum sepenuhnya siap ke BEV, misalnya karena isu charging infrastructure, jarak tempuh, atau kebiasaan berkendara,” pungkasnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya