Perlukah Kepala SPPG Menggunakan Motor Trail Listrik Rp 50 Jutaan?

JAKARTA – Pengadaan motor listrik untuk program makan bergizi gratis (MBG) menuai perhatian publik. Pasalnya, kendaraan yang disiapkan untuk Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut bernilai puluhan juta rupiah per unit.
Motor listrik yang dimaksud adalah Emmo JVX GT, yang berdesain ala motor trail, serta Emmo JVH Max sebagai model skuter listrik. Berdasarkan situs resmi produsen, Emmo JVX GT dijual Rp 56,8 juta. Sementara Emmo JVH Max dibanderol Rp 48,8 juta dengan klaim kecepatan hingga 90 km/jam, jarak tempuh 70 km, dan baterai 72V 30Ah.
Meski begitu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut harga motor listrik untuk Kepala SPPG berada di kisaran Rp 42 juta per unit. Ia menilai harga tersebut masih lebih murah sekitar Rp 10 juta dibanding harga pasarnya yang disebut mencapai Rp 52 juta.
Pengadaan motor listrik ini memunculkan pertanyaan dari sejumlah pihak, termasuk pengamat otomotif Bebin Djuana. Ia mempertanyakan kebutuhan Kepala SPPG terhadap motor listrik berharga tinggi, terlebih jika kendaraan tersebut hanya digunakan untuk mendukung operasional harian.
“Untuk apa? Kenapa pilih seperti itu, kenapa pilih spesifikasi seperti itu, untuk apa? Bahwa kepala dapur perlu kendaraan, kita bisa maklumin, masa dia suruh jalan kaki. Bahwa perlu beli motor listrik yang Rp 50 juta, itu jadi tanda tanya besar,” kata Bebin kepada detikOto, Kamis (9/4/2026).
Bebin juga menilai penggunaan kendaraan listrik sebagai langkah yang positif karena dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, menurut dia, pilihan motor listrik dengan harga setinggi itu masih perlu dipertanyakan, terutama jika pengadaan bisa diarahkan untuk memberdayakan industri dalam negeri.
“Kenapa sih mesti segitu mahal? Kenapa sih tidak memberdayakan membuatnya di dalam negeri?” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan kendaraan roda tiga atau kendaraan angkut sederhana di dalam negeri bisa menjadi alternatif yang lebih relevan untuk kebutuhan operasional. Selain itu, jika dibuat di Indonesia, pelatihan perawatan kendaraan hingga bengkel-bengkel kecil di daerah juga dapat ikut terlibat.
“Kalau perawatan memang kendaraan listrik itu akan menjadi minim perawatan. Kalau motor tersebut buatan dalam negeri, melakukan pendidikan untuk mereka-mereka yang akan merawat, bengkel pinggir jalan sekalipun kan jadi bisa menangani,” kata Bebin.
