Motor Listrik MBG Diduga Mirip Produk China, Praktik White Label di Industri EV Dinilai Biasa

15 Apr 2026 • 02:56 iMedia

JAKARTA – Motor listrik yang disebut-sebut digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ramai diperbincangkan karena dinilai mirip dengan produk asal China. Warganet menyoroti kemiripan antara motor listrik Emmo JVX GT dan Kollter ES1-X PRO yang dijual di platform dagang internasional dengan harga jauh lebih rendah.

Di laman Alibaba, Kollter ES1-X PRO tercantum di kisaran Rp 10 jutaan untuk pembelian satu unit. Bahkan, jika membeli dua unit, harganya disebut bisa turun menjadi sekitar Rp 8 jutaan.

Hingga kini, pihak Emmo maupun Badan Gizi Nasional (BGN) belum memberikan tanggapan atas dugaan kemiripan tersebut.

Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, mengatakan praktik rebranding atau rebadge dari produk white label, terutama yang berasal dari China, sudah umum terjadi di industri kendaraan listrik.

“Umum,” kata Hendro saat ditanya mengenai praktik membeli kendaraan white label dari China lalu diberi merek baru.

Menurut dia, tidak sedikit motor listrik di Indonesia yang berasal dari produk white label. Meski demikian, ada pula sejumlah merek yang mulai memproduksi komponen secara lokal, seperti rangka, bodi, dan velg.

Hendro menjelaskan, harga yang terlihat di platform business-to-business seperti Alibaba umumnya merupakan harga pabrik ekspor dalam skema Free on Board (FOB) atau Ex Works (EXW). Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim ke Indonesia, asuransi kargo, maupun pajak dan bea masuk.

Ia menambahkan, jika harga pabrik di China diasumsikan Rp 10 juta per unit, maka ongkos freight dan asuransi internasional dapat menambah sekitar 5-10 persen. Setelah itu, masih ada kewajiban impor seperti PPh Pasal 22, PPN impor, dan bea masuk sesuai ketentuan yang berlaku.

“Khusus untuk kendaraan listrik dalam bentuk terurai atau CKD dan IKD, pemerintah memang memberikan insentif bea masuk 0 persen, tetapi itu berlaku untuk produsen terdaftar dengan kewajiban investasi, bukan sembarang importir,” ujarnya.

Setelah sampai di Indonesia, barang masih harus melalui proses pengangkutan domestik, pengurusan dokumen, dan logistik tambahan. Di tahap perakitan, biaya tenaga kerja, listrik, air, sewa bangunan, quality control, pengujian, hingga sertifikasi juga ikut menambah harga akhir.

Karena itu, menurut Hendro, produk yang di platform China terlihat dihargai Rp 8-10 juta bisa saja sampai ke konsumen Indonesia dengan harga jauh lebih tinggi, bahkan menembus Rp 40 juta lebih.

Ia juga menyebut produsen China pada umumnya bekerja sebagai penyedia kapasitas produksi, bukan sekadar menjual produk jadi. Platform seperti Alibaba, kata dia, menjadi etalase OEM dan ODM yang menawarkan basis produk, sementara spesifikasi akhir ditentukan oleh pemesan.

Hendro menilai harga murah yang tampil di Alibaba kemungkinan menggunakan spesifikasi baterai kelas bawah. Sementara itu, motor trail listrik Emmo disebut memiliki motor 7.000 watt, baterai 72V 31Ah, fitur fast charging, garansi rangka lima tahun, garansi baterai tiga tahun, serta harus lolos uji tipe Kementerian Perhubungan.

Menurutnya, praktik seperti ini bukan hal baru dalam industri manufaktur global. Produk dengan tampilan serupa bisa saja berasal dari pabrik yang sama, tetapi berbeda dalam spesifikasi bahan, standar produksi, dan kontrol kualitas.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya